Putri Junjung Buih
September 11, 2026Lutung Kasarung
September 13, 2026Calon Arang adalah kisah dari masa pemerintahan Raja Airlangga di Jawa Timur tentang seorang janda sakti yang menyebarkan wabah. Kisah ini juga hidup dalam seni pertunjukan Bali, tempat tokoh Calon Arang kerap dihubungkan dengan lakon yang menampilkan Rangda.
Janda sakti dari Girah
Di sebuah desa bernama Girah hiduplah seorang janda sakti yang dikenal sebagai Calon Arang. Ia menguasai ilmu hitam dan memiliki banyak murid. Ia mempunyai seorang putri cantik bernama Ratna Manggali.
Meski cantik, Ratna Manggali tidak kunjung dilamar. Para pemuda takut pada kesaktian ibunya. Calon Arang merasa terhina dan sakit hati. Dendam itu perlahan membesar di dalam dirinya.
Wabah yang melanda negeri
Dalam amarahnya, Calon Arang memanggil para muridnya, lalu mereka melakukan ritual di kuburan. Tak lama kemudian wabah penyakit menyebar. Banyak penduduk jatuh sakit dan meninggal. Ketakutan dan kesedihan meliputi seluruh negeri.
Raja Airlangga yang cemas meminta nasihat kepada Mpu Bharada, seorang pendeta bijak yang dihormati. Mpu Bharada memahami bahwa ilmu Calon Arang tidak dapat dikalahkan dengan kekerasan.
Siasat sang pendeta
Mpu Bharada mengutus muridnya, Mpu Bahula, untuk mendekati Ratna Manggali. Mpu Bahula melamarnya, dan Calon Arang menerima dengan gembira karena akhirnya putrinya ada yang meminang. Setelah menikah, Mpu Bahula tinggal di rumah itu dan perlahan mempelajari rahasia ilmu sang mertua.
Dalam beberapa versi, ia berhasil mengetahui kitab tempat Calon Arang menyimpan ilmunya, lalu membawanya kepada gurunya. Dengan begitu Mpu Bharada mengetahui kelemahan dan sumber kekuatan Calon Arang.
Pertemuan dua kekuatan
Mpu Bharada mendatangi Calon Arang. Pertarungan ilmu pun tidak terelakkan, tetapi sang pendeta tidak menyerang dengan niat membinasakan. Ia menunjukkan kepada Calon Arang bahwa kebencian hanya melahirkan penderitaan bagi banyak orang, termasuk bagi dirinya sendiri.
Calon Arang akhirnya menyadari kesalahannya. Ia menyerah dan memohon agar diruwat, yaitu disucikan, supaya arwahnya mendapat jalan menuju kedamaian. Mpu Bharada mengabulkan permintaan itu, dan wabah pun berakhir.
Makna di balik kisah
Calon Arang sering dibaca sebagai kisah tentang keseimbangan antara kebaikan dan keburukan. Tokoh yang ditakuti pun digambarkan memiliki sisi manusiawi: seorang ibu yang terluka karena putrinya tak kunjung dilamar. Dalam kisah ini, kebijaksanaan dan kesabaran lebih kuat daripada kekerasan.
Kisah ini memiliki banyak tafsir, baik dalam naskah kuno Jawa maupun dalam tradisi pentas Bali, sehingga rincian dan akhir ceritanya dapat berbeda dari versi ke versi.
