Keong Mas
September 2, 2026Timun Mas
September 4, 2026Kisah Sangkuriang adalah legenda masyarakat Sunda yang menjelaskan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu di dekat Bandung, Jawa Barat. Cerita ini penuh takdir, kesalahpahaman, dan amarah yang berujung tragedi.
Dayang Sumbi dan alat tenun yang jatuh
Pada zaman dahulu hiduplah seorang putri cantik bernama Dayang Sumbi yang gemar menenun. Suatu hari, saat menenun, alat tenunnya terjatuh ke tanah. Karena enggan turun, ia bergumam bahwa siapa pun yang mengambilkannya akan ia jadikan pasangan hidup.
Yang datang membawa alat itu adalah seekor anjing jantan bernama Tumang. Dayang Sumbi terkejut, tetapi ia teguh pada ucapannya. Sebenarnya Tumang adalah dewa yang dikutuk menjadi anjing. Dari hubungan mereka lahirlah seorang anak laki-laki yang gagah, Sangkuriang.
Pemburu muda dan hati Tumang
Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda pemberani dan pandai berburu. Ia tidak tahu bahwa Tumang, anjing yang setia menemaninya, sebenarnya adalah ayahnya. Suatu hari Dayang Sumbi menginginkan hati rusa. Sangkuriang pergi berburu bersama Tumang, tetapi seharian ia tidak menemukan seekor rusa pun.
Dalam kesal dan putus asa, Sangkuriang menyuruh Tumang mengejar babi hutan. Tumang menolak, sehingga Sangkuriang membunuhnya dan membawa hatinya pulang sebagai pengganti. Dayang Sumbi memasaknya. Setelah tahu hati siapa yang dimasak, ia sangat murka dan memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi hingga terluka. Sangkuriang pun pergi dengan hati terluka.
Pertemuan setelah bertahun-tahun
Sangkuriang mengembara bertahun-tahun, belajar berbagai ilmu, dan menjadi sakti. Suatu ketika ia tiba di sebuah desa dan bertemu seorang perempuan yang tampak sangat muda dan cantik. Ia jatuh cinta. Perempuan itu sebenarnya Dayang Sumbi, yang awet muda karena anugerah dewata. Keduanya tidak saling mengenali.
Ketika Sangkuriang melamar, Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepalanya dan sadar bahwa pemuda itu adalah anaknya sendiri. Ia berusaha menjelaskan, tetapi Sangkuriang tidak percaya dan tetap memaksa.
Syarat yang mustahil
Untuk menggagalkan pernikahan, Dayang Sumbi mengajukan syarat: Sangkuriang harus membendung Sungai Citarum hingga menjadi telaga, lalu membuat perahu besar untuk berlayar di telaga itu, dan semuanya harus selesai sebelum fajar.
Dengan kesaktian dan bantuan makhluk halus, Sangkuriang bekerja sepanjang malam. Ia menebang pohon besar untuk membuat perahu, dan bendungan hampir rampung. Dayang Sumbi cemas melihat pekerjaan itu hampir selesai.
Fajar palsu dan perahu terbalik
Dayang Sumbi lalu menebarkan kain tenunnya yang berkilau di ufuk timur. Cahayanya menyerupai fajar, dan ayam jantan pun berkokok. Makhluk halus yang membantu Sangkuriang mengira pagi telah tiba dan pergi meninggalkannya.
Sangkuriang gagal. Dalam kemarahan, ia menendang perahu yang hampir jadi hingga terbalik. Perahu yang tertelungkup itu dipercaya menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang berarti “perahu terbalik”. Tunggul pohon dan ranting yang tersisa konon menjadi Bukit Tunggul dan Gunung Burangrang.
Makna di balik kisah
Legenda ini sering dibaca sebagai penjelasan asal-usul lanskap Bandung, sekaligus pengingat tentang akibat dari amarah dan keputusan yang diambil tanpa berpikir panjang. Versi cerita ini berbeda-beda di tiap tempat, tetapi inti tragedinya sama.
